| Upcoming event |
|---|
| We have 1 guest online |
| Our sponsor |
|---|
![]() ![]() ![]() ![]() |
| Launching Album thedyingsirens, “sketches of a humming” |
| Written by berT Photo by oHm | |||||
| Wednesday, 22 March 2006 | |||||
Dan kegalauan ini terasa sangat dimanjakan saat thedyingsirens mulai mengalunkan nada-nada menyahat hati tepat di depan mata gue.Kamis (28/12) sore lalu. Matahari seakan tak peduli dengan keadaan hati gue. Sepertinya ia mengerti untuk menciptakan suasana sendu sepanjang hari. Hari itu sang surya tak ada niatan untuk menunjukan keperkasaannya. Langit terus mendung dari pagi hari, dan hujan rintik mengiringi segala resah di hati. Ah tidak! Jam sudah menunjukan pukul delapan malam! Berarti dua jam udah lewat dari jadwal acara launching album thedyingsirens. Tanpa pikir panjang, langsung aja gue siap-siap dan tancap gas. Meninggalkan segala sisa pekerjaan yang masih menumpuk. Dari Jakarta Barat dengan cepat dan cekatan gue menuju jawasan Kemang.Lampu merah gue terobos, bajaj gue salip, tukang bakso gue serempet (dikit), aspal digilas, debu diterjang, udara dibelah, asap ditebas, gebetan kandas (lho?), adik-adik SMA? Dikasih tebengan lah. Hehehehe. Kembali ke topik kita. S**t! Bener aja, sesampainya gue di Aksara Kemang, band macem Efek Rumah Kaca, The Denials, Sugar Spin dan Planet Bumi yang dipasang duluan udah kelar main. Sial! Masak kelewatan empat band! Untung aja thedyingsirens belum main. Ternyata penikmat musik yang dateng malem itu banyak juga. Toko buku Aksara yang emang nggak seberapa luas, keliatan susah payah menampung animo mereka. Bahkan diawal-awal lagu, gue terpaksa nonton dari depan toilet. Ngerasa nggak enak karena menganggu arus orang-orang yang ingin ke toilet. Gue putuskan untuk menerobos ke tengah-tengah crowd. Dengan susah payah akhirnya gue dapet juga posisi asik buat nonton.Di panggung, beberapa kru dan personel thedyingsirens tengah bersiap-siap. Hmm, muka-mukanya terlihat tidak asing. Nggak lama mereka mulai mengeber lagu pertama. Fren, jujur nih. Malem itu gue lupa nyatet urutan lagunya. Jadi mohon maaf liputannya jadi agak kancrut. Hehehe. Mari kita kembali lagi ke topik.Sejak lagu pertama, penonton keliatan begitu menghayati alunan nada dan lirik yang dititipkan Uga(gitar/vokal), Aan(drum), Nourie(gitar), Fino(Keyboards), dan Siska(bas) ke udara bebas. Walaupun indie-lovers (aihh...bahasanya) yang hadir malam itu belum familiar sama lagu-lagunya, banyak dari mereka yang ngangguk-ngangguk dan melamun.Bukan melamun jorok lho! Mungkin menerawang lebih tepat. Entah karena terbawa suasana atau karena bisikan apa. Aksi dan lagu-lagu thedyingsirens berhasil menciptakan suasana yang begitu sendu. Terlebih buat gue yang emang lagi sedikit galau. (hihihi, curhat dikit ah). Semua duduk dan berdiri terdiam. Menikmati dan meresapi apa yang hendak mereka sampaikan lewat harmoni nada dan barisan lirik. Uga terus besenandung ditemani gitar kopongnya. Malam itu ia mengembalikan esensi bermusik, yaitu saat kita bermain dari hati. Dan kejujuran terlukis di setiap tarikan suaranya. Usut punya usut, ternyata thdyingsirens memang dibuat saat Uga sedang mengalami kekalutan luar biasa dan membawanya ke titik terendah dalam hidupnya. Nggak heran seakan penonton ikut terhipnotis olehnya.Beruntung keadaan ini nggak dibiarkan berlarut-larut. Kalo kelamaan bisa bunuh diri rame-rame nih. Hehehe. Uga yang malam itu bertindak sebagai front man menyelamatkan suasana dengan jokes ringannya di sela pergantian lagu. Makanya kita bisa senyum dan ngobrol lagi sama teman sebelah. Sampai lagu terakhir, penonton belum ada yang beranjak dari posisinya masing-masing. Baru setelah Uga dkk, mengucapkan salam perpisahan dan ucapan terima kasih, penonton baru mengambil langkah untuk bergerak. Entah bergerak pulang atau bercengkerama sejenak dengan para kolega.Tepat pukul sepuluh malam acara berakhir. Alat-alat mulai dibereskan dan lampu toko mulai mati sebagian. Semoga acara ini menjadi awal dari kisah sukses band ini. Semoga thedyingsirens tidak terus-terusan sekarat. Melainkan terus hidup dan membawa virus kebahagiaan dengan cara yang berbeda. (berT) FOTO : adiet *special thanks to thedyingsirens and satriaramadhan
Powered by JoomlaCommentCopyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved.Homepage: http://cavo.co.nr/ |
|||||
| Last Updated ( Sunday, 16 September 2007 ) | |||||
| < Prev | Next > |
|---|