|
LenaLane. Somebody unique and genius |
|
Written by berT
|
|
Thursday, 17 August 2006 |
|
Banyak yang menghiasi proses pembuatan artikel ini. Dari mulai gempa, afternoon tea, kesibukan masing-masing, sampai rasa malas yang terlalu dimanjakan. Nah, yang terakhir adalah yang paling menyebalkan. Sama menyebalkannya dengan gue yang terlalu lama melunasi artikel ini. Ya, saya menyebalkan karena membuat anda menunggu untuk membaca artikel ini. Maafkan saya ya.
LENA LANE 17 Years Old BM400 Senior High School Somebody unique and genius http://www.myspace.com/lenaukyou
 Okey, kita mulai saja. Hari itu, waktu empat puluh lima menit menjadi terasa terlalu singkat untuk sekedar bertukar pikiran dan menyelidiki sedikit sisi kehidupan dari diri seorang Lena. Yang entah kenapa menjadi sungkan ketika ditanya nama lengkapnya. ”Everybody have secrets and I love to keep secrets” begitu katanya. Tidak ada yang spesial dari interview hari itu. Tak ada kejutan kecil ataupun sesuatu yang memacu adrenalin. Semuanya seperti berjalan diatas treknya. Pertanyaan mengalir deras spontan, dan begitu juga jawaban lugas yang terlontar dari perempuan berdarah Yugoslavia, Jerman dan Madura ini. Menyenangkan berbicara dengan perempuan yang lahir pada tanggal 26 Januari 1989 ini. Hari itu pembicaraan kita lebih banyak didominasi dengan cerita tentang impian dan cita-citanya. Dan sepertinya ia merupakan tipikal perempuan yang tahu apa yang dimauinya, yang selalu berpikir positif dalam proses mencapai impiannya.
Rocktofolio : “Dimana gue bisa menemukan seorang Lena di sepuluh tahun mendatang?” Lena : “Hmm… Temui saya di belakang panggung festival-festival musik dunia.”
Rocktofolio : “Sebagai musisi?” Lena : “Nope. Lo bakal ketemu gue sebagai seseorang music journalist yang selalu berkeliling dunia dari satu panggung ke panggung lainnya.Mungkin dengan id Rolling Stone Magazine.” Sekedar informasi, cewek yang ternyata kembar ini sekarang sedang menimba ilmu di sebuah tempat kursus fotografi di bilangan Pasar Baru. Satu tempat yang yang terkenal banyak melahirkan fotografer-fotografer handal. Satu usaha untuk membantu mewujudkan impian tampaknya. Rocktofolio : “Artis yang ada di impian interview dan tangkapan cahaya kamera lo” Lena : “…Bloc Party, Sigur Ros, Interpol, Yeah Yeah Yeahs, dan The Shins.” Rocktofolio : “Tiga hal yang tak kau mengerti di dunia ini?” Lena : “Yang pertama, kenapa seseorang bisa jatuh cinta. Then, why nature is very very very beautiful? Yang terakhir, kenapa orang harus menjalani hidup di dunia kalau nanti akhirnya harus mati juga?” Rocktofolio : “Apa yang terlintas ketika kau berpikir tentang diri sendiri?” Lena : “Somebody unique and genius” Yeah…jarang gue nemuin jawaban kayak gini. Biasanya sih kalo ada yang dikasih pertanyaan seperti ini orang cenderung menjawab, gue tuh orangnya moody, plin-plan, dan lainnya. Atau, malah nggak mau menjawab sama sekali. Karena ada yang berasumsi hanya orang lain yang bisa memberikan penilaian objektif tentang dirinya. Tapi tidak dengan cewek yang satu ini. Dia menjawab dengan pasti tak kurang setengah menit dari saat pertanyaan dilontarkan. Rocktofolio : “Tentang seorang pria yang nantinya bakal menemani sampai akhir hidup lo?” Lena : “Pastinya seseorang yang punya selera musik bagus. Kalau dari fisik, gue lebih suka cowok yang tinggi, kurus dan tentunya yang pakai kacamata.” M.Night Shyamalan adalah nama kedua yang disebutkannya setelah sebelumnya menyebut nama John Cusack di film Hi-Fidelity sebagai lelaki impiannya. Entah kenapa Lena menyukai tipe lelaki seperti sutradara dari India ini. Yang jelas ia sangat menyenangi film-film hasil garapannya. Sama seperti saat ia menyenangi film-filmnya Tim Burton. Oya bicara masalah om Tim Burton. Lena punya satu impian yang sangat diwujudkannya. Yaitu membuat sebuah novel anak-anak yang bergambar. Yang katanya terinspirasi dari buku “Melancholy death of oyster boy and the other stories” karya si om Tim Burton. Setelah bercerita tentang impian menjadi seorang jurnalis musik, membuat buku dan lelaki impiannya. Ia punya satu cita-cita lagi. Lagi? Yup! Satu impiannya lagi adalah menjadi semacam aktivis perdamaian dan pecinta lingkungan. Greenpeace impiannya, tapi sekarang ia sudah tergabung dalam organisasi ‘The cure for tomorrow’. Impian yang katanya terinspirasi dari gaya hidup kaum hippies di jaman kedua orangtuanya. Tentunya minus kebiasaan menghisap lintingan daun surga. Atau itu termasuk juga Len? Hehehe… Apakah menurut anda perempuan ini terlalu banyak impian? Hmm nggak juga ah. Kalau menurut gue sih sah-sah aja kok bila seseorang punya banyak impian, daripada seseorang yang hidup tapi nggak punya impian dan cita-cita sama sekali. Karena menurut gue hidup tanpa impian itu mati. Bener nggak Len? (berT) |
|
Last Updated ( Wednesday, 17 October 2007 )
|